Kualitas Udara Pontianak Dekati Beracun, Siswa Tetap Sekolah

Ilustrasi kondisi langit Pontianak saat kabut asap melanda. Dokumentasi pribadi.
Kualitas Udara di Pontianak kini berada di ambang batas berbahaya. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) terkini, angka partikel halus (PM2.5) menembus level 190-210, yang masuk kategori Sangat Tidak Sehat dan nyaris menyentuh status Beracun. Meski kondisi ini mengancam kesehatan, aktivitas belajar mengajar di sebagian besar sekolah dasar dan menengah tetap berjalan normal. Para orang tua pun dilanda kecemasan, tetapi mereka tidak punya pilihan lain karena sekolah belum mengeluarkan kebijakan libur.
Fenomena Kabut Asap yang Menggantung
Selama tiga minggu terakhir, kabut asap tebal menyelimuti hampir seluruh wilayah Pontianak. Akibatnya, jarak pandang turun drastis hingga di bawah 500 meter. Sebagai contoh, kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat menjadi sumber utama bencana tahunan ini. Selanjutnya, angin bertiup lemah dari arah tenggara, sehingga partikel asap tidak mampu tersebar ke atmosfer atas. Oleh karena itu, konsentrasi polutan terus menumpuk di lapisan udara permukaan.
Selain itu, kelembapan udara yang tinggi membuat partikel asap semakin lengket dan mudah terhirup. Para ahli lingkungan pun menyebut kondisi ini sebagai siklus mematikan karena berulang setiap musim kemarau. Namun, yang lebih memprihatinkan, angka insiden infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di puskesmas-puskesmas kota meningkat 300% hanya dalam dua pekan. Dokter-dokter di RSUD Soedarso pun kewalahan menangani pasien anak-anak yang mengalami sesak napas berat.
Kebijakan Sekolah yang Kontroversial
Pemerintah kota sebenarnya telah mengeluarkan surat edaran yang menganjurkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Akan tetapi, implementasi di lapangan jauh dari kata ideal. Banyak sekolah tidak memiliki infrastruktur internet yang memadai, sehingga guru-guru memilih mengadakan tatap muka terbatas. Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan setempat mengklaim bahwa keputusan tetap masuk sekolah ini berdasarkan pertimbangan efektivitas kurikulum. Mereka beralasan bahwa ujian akhir semester sudah di depan mata.
Sementara itu, para guru sendiri terbelah sikap. Sebagian besar memilih mengenakan masker N95 dan tetap mengajar, tetapi sebagian yang lain mengaku takut membahayakan kesehatan. Seorang guru wali kelas di SD Negeri 12 Pontianak, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan bahwa ia terpaksa membuka jendela kelas karena ventilasi buruk. Ironisnya, langkah tersebut justru memperparah masuknya asap ke ruangan belajar.
Data Menunjukkan Lonjakan Berbahaya
Berdasarkan pantauan stasiun pemantau kualitas udara di Jalan Ahmad Yani, konsentrasi PM2.5 mencapai 212 mikrogram per meter kubik. Angka ini setara dengan 14 kali batas aman harian yang direkomendasikan WHO. Padahal, ambang batas normal hanya 35 mikrogram per meter kubik. Sebagai perbandingan, saat kabut asap sudah dalam level ekstrem, partikel ini dapat menembus alveoli paru-paru dan langsung masuk ke aliran darah. Akibatnya, risiko penyakit jantung koroner dan stroke pun melonjak tajam.
Para peneliti dari Universitas Tanjungpura bahkan menyebut bahwa Kualitas Udara di Pontianak saat ini lebih buruk daripada kota-kota industri besar seperti Jakarta atau Surabaya. Mereka menemukan bahwa kandungan logam berat seperti timbal dan merkuri dalam debu asap cukup tinggi. Selanjutnya, sebaran partikel ini terbukti mengendap di permukaan daun tanaman pangan milik warga. Dengan demikian, rantai makanan juga ikut terkontaminasi, yang menyebabkan ancaman jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.
Suara Pelajar di Tengah Kabut
Di SMP Negeri 5 Pontianak, situasi kelas tampak tidak seperti biasanya. Hampir seluruh siswa mengenakan masker hijau hingga menutupi dagu. Meskipun demikian, mereka tetap harus mengerjakan soal ulangan harian sambil sesekali batuk-batuk. Seorang siswi bernama Arum (13) mengaku matanya perih dan tenggorokannya kering sejak seminggu terakhir. Tapi kami takut ketinggalan pelajaran, jadi tetap berangkat, ujarnya lirih.
Kondisi ini menimbulkan dilema bagi orang tua. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh harian dan tidak memiliki pilihan untuk mengawasi anak di rumah. Karena itu, banyak yang terpaksa mengirim anaknya ke sekolah dengan bekal masker cadangan dan obat batuk. Di lain pihak, beberapa sekolah di kawasan pinggiran kota mulai menerapkan sistem ganjil-genap untuk mengurangi jumlah siswa di kelas. Langkah ini memang cukup membantu, tetapi masih jauh dari kata menyeluruh.
Langkah Nyata yang Mulai Mengemuka
Menyikapi darurat ini, beberapa sekolah inovatif mulai menggunakan pembersih udara (air purifier) portabel di setiap kelas. Sebagai solusi darurat, mereka juga memperbolehkan siswa membawa tabung oksigen mini, tetapi tentu saja langkah ini tidak praktis. Di sektor lain, seorang wirausahawan lokal membagikant 2000 masker KN95 secara gratis kepada pelajar setiap pagi. Aksi sosial semacam ini memang patut diacungi jempol, tetapi tetap saja bersifat sementara.
Para pakar kesehatan masyarakat menyarankan agar kegiatan luar ruangan benar-benar dihentikan, termasuk upacara bendera dan olahraga. Mereka juga mendorong penggunaan sistem penyaring udara berbasis HEPA di seluruh gedung sekolah. Lebih jauh lagi, perlu ada kemauan politik yang kuat dari pemerintah daerah untuk melakukan modifikasi cuaca atau teknologi hujan buatan. Dengan cara ini, asap tebal dapat segera diluruhkan sebelum memuncak menjadi situasi yang tidak dapat ditangani.
Tekanan Lingkungan yang Tak Kunjung Reda
Kualitas udara ini bukanlah sekadar fenomena musiman, melainkan indikator kesalahan pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Permintaan pasar global terhadap minyak sawit secara tidak langsung mendorong praktik pembakaran lahan murah. Para petani kerap memilih metode tebang-bakar karena cepat dan hemat biaya, meskipun dampaknya sangat merusak. Pergeseran iklim global juga memperparah kekeringan, sehingga gambut menjadi lebih mudah terbakar dan menyala di bawah permukaan tanah.
Karena itu, solusi jangka panjang menuntut restorasi ekosistem gambut dan penegakan hukum yang tegas terhadap korporasi. Selain itu, masyarakat pun perlu diedukasi tentang bahaya asap serta cara melindungi diri. Aktivis lingkungan dari Walhi Kalbar menuntut gubernur untuk segera mengeluarkan status darurat bencana kabut asap. Jika tidak, bukan tidak mungkin level Beracun bukan hanya sebatas wacana, tetapi akan menjadi kenyataan pahit yang menghantui ratusan ribu jiwa.
Ketika Ekonomi Bentrok dengan Kesehatan
Di tengah semua kekacauan ini, para siswa tetap bersekolah karena orang tua khawatir kehilangan pekerjaan jika harus tinggal di rumah untuk mengasuh. Keputusan ini adalah buah dari keterbatasan struktural yang menempatkan kebutuhan perut di atas keselamatan paru-paru. Esok hari, kita mungkin melihat kabut semakin pekat atau sedikit beradab. Namun yang pasti, anak-anak tetap berjalan menuju pagar sekolah sambil memegang botol minum dan masker cadangan di saku.
Dunia pendidikan kini berada di persimpangan yang sangat sulit. Bila memaksa buka sekolah, kita mempertaruhkan generasi penerus. Bila menutup sekolah, maka kesenjangan pembelajaran semakin melebar. Melalui program Kualitas Udara yang dipantau secara real-time, pemerintah seharusnya memiliki data yang cukup untuk bertindak cepat. Oleh karena itu, kami mengajak semua pihak untuk tidak menormalkan abnormalitas ini. Tekanan publik yang terorganisasi bisa menjadi katalis agar sekolah dan sekolah kembali menjadi tempat yang aman dari racun.
Kualitas udara di Pontianak memang mendekati titik Beracun, tetapi ironisnya, anak-anak tetap dipaksa beradaptasi. Perubahan besar pasti dimulai dari langkah kecil, seperti mematuhi protokol masker dan meminta kejelasan kebijakan pemerintah. Sampai saat ini, kabut masih menggantung, dan setiap tarikan napas menjadi sebuah keberanian yang tak terlihat. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kesehatan adalah hak dasar yang tidak bisa ditawar oleh jadwal ujian atau target kurikulum.
Oleh karena itu, kami mendukung penuh para guru yang berani menyuarakan keadaan sebenarnya. Kami juga memuji para orang tua yang mengorbankan segalanya demi anak-anaknya. Tetapi marilah kita berhenti berpuas diri. Dengan mendesak otoritas terkait dan menerapkan teknologi penyaring udara, kita dapat mengubah arah kabut ini. Jangan sampai kita menunggu satu nyawa lagi melayang sebelum kualitas udara menjadi prioritas yang sesungguhnya.
Baca Juga:
Hati-hati, Kebiasaan Pedas-Asam Picu Radang Usus Buntu